Sabtu, 08 Oktober 2016

KISAH UMAR BIN KHATTAB

Nama Umar bin Khattab memang begitu familiar bagi Umat Islam. Sahabat Rasulullah SAW dan khalifah ini berhasil membawa Islam pada kejayaan. Banyak negeri dikuasai, musuh tidak sanggup menghadapi, bahkan saat melihatnya setan pun lari.

Pria bergelar Amirul Mukminin tersebut begitu taat kepada ajaran Allah dan Rasul-Nya. Akhir hayatnya juga dihabiskan hanya demi berjuang untuk Agama Islam. Namun siapa sangka, sebelum akhirnya bersyahadat, Islam dan Umar sama sekali tidak bersahabat.


Bahkan Ia berkali-kali berniat membunuh Rasulullah SAW. Hingga akhirnya pada suatu hari sebuah surat memberinya hidayah. Isinya mampu menembus qalbu karena berasal langsung dari sang Pencipta. Padahal sebelumnya, Ia tengah dalam keadaan bersemangat ingin membunuh Rasul. Penasaran seperti apa isi suratnya? Berikut ulasannya.

Perlu diketahui bahwa Umar berasal dari kaum Jahiliyah yang menyembah berhala. Apa yang diajarkan Islam melalui Nabi Muhammad adalah hal yang bertentangan dengan nenek moyangnya. Sehingga Ia begitu marah saat Nabi berhasil membawa banyak pengikut dari kaumnya. Atas dasar pandangannya Umar sangat membenci Nabi Muhammad saw. Dengan tubuhnya yang kekar dan strategi perang yang jitu, membuat Umar begitu diperhitungkan sebagai musuh Islam.

Kisah tentang surat ini adalah ketika Umar hendak datang menemui Rasul untuk membunuhnya. Kemarahannya begitu memuncak ketika tahu banyak dari kaumnya yang justru mengikuti agama yang dibawa Rasulullah. Nafsunya untuk membunuh Muhammad SAW ini juga dilakukan demi menghilangkan beban yang dipikul kaum Quraisy akibat sepak terjang Nabi saw dalam menyiarkan Islam.

Umar meninggalkan rumah dengan membawa sebilas pedang menuju Dar al Arqam, yakni rumah Arqam bin Abi al Arqam, yang sering dijadikan tempat berkumpul Nabi dan sahabatnya menunaikan salat.

Namun alangkah terkejutnya Ia, karena dalam perjalanannya Umar justru mendengar kabar bahwa sang adik, Fatimah dan suaminya sudah memeluk Islam. Adalah Nu’aim bin Abdullah yang memberitahukan informasi tersebut.

“Demi Allah, engkau menipu dirimu sendiri, wahai Umar ! tidakkah engkau berpikir bahwa bani Abdul Manaf akan membiarkanmu tetap hidup setelah engkau membunuh putra mereka, Muhammad? mengapa engkau tidak segera kembali ke rumahmu dan memperbaiki rumahmu sendiri, saudara perempuanmu, Fatimah, beserta suaminya telah memeluk agama Muhammad ?

Mendengar ini Umar laksana tersambar petir. Ia berbalik arah untuk kembali menuju rumah adiknya. Ketika Umar sampai di rumah adik perempuannya, Fatimah dibawah bimbingan Khabab, sang suami sedang mempelajari Surat Thaha. Surat inilah yang membuat Umar jatuh cinta dan memutuskan untuk memeluk Islam. Ia mendengarkan dengan seksama isi surat tersebut.

Ia kemudian masuk kerumah dan mempertanyakan kebenaran tentang kabar mereka masuk Islam. Iparnya, Khabab pun menjawab dan menyebabkan kemarahan Umar.

"Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada agamamu?"

Kalimat ini kemudian Umar begitu marah sehingga menendang Khabab hingga tersungkur. Fatimah kemudian mencoba membangunkan suaminya namun justru kena tamparan umar sehingga darah menetes dari bibirnya.

Maka berkatalah Fatimah kepada Umar dengan penuh amarah: “Wahai Umar, jika kebenaran bukan terdapat pada agamamu, maka aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah”.

Umar ingin kembali menamparnya, namun tidak tega karena melihat tetesan darah sang adik. Kemudian Umar mulai melunak dan meminta agar Fatimah memberitahukan apa yang dibacanya tadi.

"Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin membacanya.' Maka adik perempuannya berkata," Kamu itu kotor. Tidak boleh menyentuh kitab itu kecuali orang yang bersuci. Mandilah terlebih dahulu!" lantas Umar bin Khattab mandi dan mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya.

Ia pun membaca hingga ayat ke 14 yang pada artinya: "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku."

Seketika itu dia memuji dan muliakan isinya, kemudian Umar minta ditunjukkan keberadaan Rasulullah. Umar kemudian memutuskan untuk kembali ke Dar al Arqam namun tetap membawa pedangnya. Sampai di rumah Arqam, kehadiran Umar sontak saja membuat seisi ruangan cemas. Terlebih dengan wajah bengis Umar yang disertai pedangnya tersebut.

Seketika Umar bergegas kembali menuju Dar al Arqam dengan tetap membawa pedangnya. Setibanya disana dia mengetuk pintu. Mereka yang ada di tempat itu kontan saja kaget dan gelisah melihat Umar membawa pedangnya yang telah terhunus.

Namun Hamzah yang juga hadir di tempat itu meyakinkan mereka seraya mengatakan bahwa jika Umar datang membawa kebaikan, kita sambut. Tapi jika Umar datang membawa keburukan, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri. Rasulullah SAW memberi isyarat agar Hamzah menemui Umar.

Lalu Hamzah segera menemui Umar, dan membawanya menemui Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW memegang baju dan gagang pedangnya, lalu ditariknya dengan keras, seraya berkata : “Engkau wahai Umar, akankah engkau terus begini hingga kehinaan dan adzab Allah diturunakan kepadamu sebagaimana yang dialami oleh Walid bin Mughirah ?"

Maka berkatalah Umar : “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah, dan Engkau adalah Rasulullah. Kesaksian Umar tersebut disambut gema takbir oleh orang-orang yang berada di dalam rumah saat itu, hingga suaranya terdengar ke Masjidil Haram.

Sontak saja keputusan Umar untuk memeluk Islam membuat seisi Mekkah langsung gempar. Mengingat dialah orang yang begitu keras menentang Islam namun kini justru menjadi pengikut setia.

Begitulah Allah, dengan mudahnya Dia membolak-balikan hati manusia. Sesuai dengan kehendak-Nya, sesuai dengan yang dipilih-Nya. Bahkan dengan cara-cara yang mudah dan tidak masuk akal. Termasuk dengan sebuah surat At Thohah.
Semoga bermanfaat !!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar