Jumat, 16 Maret 2018

Mental miskin dan jiwa pengemis

السلام عليكم.....

Mental *Miskin.*

Berjiwa *Pengemis.*

Seorang sahabat yang tinggal di Australia bercerita tentang pengalamannya :
"Suatu sore,
sesudah menikmati secangkir capucino di Gloria Jeans Café yang capucino-nya paling enak,
(menurut saya)
kami mampir ke toko roti.

Membeli sebatang roti kismis dan minta kepada si mbak penjaga toko roti,
untuk dipotongkan,
sehingga nanti di rumah gampang,
tinggal comot dan makan.

Selesai dipotong dan dibungkus rapi,
lalu diserahkan kepada saya.

Langsung saya berikan uang lembaran 10 dollar.

Tapi ditolak dengan senyum manis,
sambil berucap :
”It's free nothing to pay.”

“Are you sure ?”
kata saya.

Gadis remaja yang tugas jualan disana,
*menjelaskan :*
bahwa *kalau sudah ditutup,*
roti *tidak boleh lagi* dijual.

*Boleh diberikan kepada* siapa yang mau *atau* diantarkan ke Second Hand shop *untuk orang yang membutuhkan.*

Agak *tercengang juga* saya dengar penjelasannya.

*Terbayang,*
kalau di Indonesia,
wah bisa bangkrut ini,
karena orang bakalan menunggu toko tutup supaya dapat yang gratis.

Belum selesai ngobrol dengan si mbak,
tiba-tiba ada suami istri,
*yang juga mau belanja* roti.

Rupanya mereka tanpa saya sadari sudah mendengar percakapan kami.

Kelihatan si pria adalah orang Australia,
sedangkan istrinya adalah tipe orang Asia.

Si wanita juga minta roti di mbak,
*tapi di cegah oleh* suaminya,
*sambil berkata :*

*”No darling ~ please.*

We *have enough* money *to buy.*

*Why do we have to* pick up *a free one ?*

*Let’s* another people who need it *more than* us *take it."*

Wah ... wah,
merasa tersindir wajah saya panas …

Egoisme saya melonjak ke permukaan,
merasa tersindir dengan perkataannya.

Dalam hati saya bergumam,
”Hmm saya ini dulu pengusaha tau.”

Tapi,
syukur cepat sadar diri,
gak sampai terucapkan.

Karena orang yang bicara suami ke istrinya,
masa iya saya tiba-tiba nyelak ditengah tengah ?

Hampir saja saya berbuat kesalahan.

Karena toh mereka tidak omongin saya …

*Kalau saya merasa* tersindir,
*itu salah saya* sendiri.

Hingga menjelang tidur,
kata-kata si Suami kepada istrinya masih terngiang-ngiang rasanya.

"We *have enough* money *to buy ...*

*Why do we* have to pick up *a free one."*

*Setelah saya renungkan,*
saya *merasakan* bahwa kata-kata ini *benar.* 👍�

*Kalau* semua orang *yang punyai* duit,
*ikut* antri dan dapatkan roti *gratis,*
yang biasanya diantarkan ke Second Hand Shop *untuk dibagi bagikan gratis,*
*berarti* orang *yang sungguh-sungguh membutuhkan tidak bakalan* kebagian lagi roti *gratis.*

Walaupun saya sesungguhnya mau membayar,
namun si mbak yang nggak mau terima uang saya.

*Pelajaran* hidup ini *tidak mungkin akan saya lupakan.*

*Kalau kita sanggup* beli.
*jangan ambil yang gratis.*

*Biarlah* orang lain *yang lebih membutuhkan* mendapatkannya.

*Sungguh* sebuah kepedulian akan sesama *yang diterapkan dengan* kesungguhan hati. 💯

*Kini* saya *baru tahu,*
*kenapa kalau di* club *ada kopi gratis,*
tapi *jarang ada yang ambil.*

Mereka *lebih suka* membeli.

*Bukan karena* gengsi2an ⁉

Tetapi *terlebih karena rasa peduli* mereka *pada orang lain,*
yang *mungkin lebih membutuhkan.*

Pelajaran yang sungguh sungguh memberikan inspirasi bagi diri saya. 👏

Tuhan *sudah memberikan* berkah yang cukup *untuk kita.*

*Tidak perlu lagi* kita *mengambil bagian* berkah *yang diperuntukkan bagi orang lain.*

Ketika kita mendengar ada program pemerintah untuk membantu orang miskin,
apa yang ada dalam benak kita ?

Apa kita akan ikut bersiasat agar mendapat bagian ⁉

Ataukah kita merekayasa data agar kerabat dan saudara kita dapat bagian juga ?

Atau kita sok jadi pahlawan dengan mengajukan diri sebagai pendamping program,
tapi dalam pikiran kita tersimpan niat busuk untuk memperkaya diri sendiri ⁉

Sahabat,
kemiskinan *bukan untuk dipolitisir dan dieksploitasi.*

Orang miskin dan kemiskinan *adalah ladang amal.*

Keberadaan orang miskin *adalah cara* Tuhan *untuk menguji* sejauh mana kepedulian *dan* keimanan *kita.*

*"Jangan ngaku* beriman *jika* tetangga kanan kirinya *masih ada yang kelaparan."*

Sementara kemiskinan *adalah* mental *yang mesti dirubah* dan *diberantas.*

Mental minta-minta,
mental gratisan,
mental pemalas,
mental potong kompas,
*termasuk* mental jualan data orang miskin.

semua itu *adalah Mental Pengemis yang membuat* bangsa ini *rendah dan terhina.*

*Itulah* kemiskinan *kultural.*

*Sudah saatnya* kita bangkit *dan sadar,*
tangan di atas *lebih baik daripada* tangan di bawah. 👍�

*Menjaga* harga diri lebih baik *daripada menjatuhkan* kehormatan *hanya demi* sesuap nasi.

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah *yang kamu dustakan ?"*

😊🙏🏼

#salambubur