Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Juni 2018

optimisme tukang bubur ayam

SUKSES ga harus terlihat besar

Ada teori yang mengatakan bahwa `sukses itu seringkali diawali dari bakat yg ditemukan dan diarahkan dengan baik dan tepat´.

Sejatinya setiap manusia punya kelebihan/ bakat yang tersimpan dalam dirinya, bahkan pada individu yg difable sekalipun. Nah .. untuk urusan penemuan bakat ini faktor keberuntungan berperan sangat besar, terbukti dari beberapa atlit atau profesi lain yg sukses dibidangnya seringkali muncul secara tidak sengaja , dalam arti mereka tidak mendalami peran yg mereka geluti sekarang secara terprogram dari A sampai Z melainkan menemukan passion mereka di tengah profesi yg mereka jalani sebelumnya.

Lalu gimana kabarnya dengan mereka yg tak juga menemukan bakatnya dan jauh dari sukses yang mereka idam idamkan ?!!!##@

Jangan takut jangan khawatir,  ga perlu jadi burung biar bisa terbang gaezz  hehehe. Salah satu cara yg paling mudah adalah dengan mendefinisikan ulang apa arti sukses itu menurut kamu sendiri...iyaa kamuu.

Misal gw dulu pingin banget jadi pengusaha besar yg sukses dan ngehitz wkwkwkwk daaan wat heppen tudey...???¿¿¿ gw jd tukang bubur ayam gaezzz.... sukses ga siiih !!!!????? no..not at all ...hiks hiks hiks

Tapi jangan sedih jgn berduka men.. ga perlu jadi burung biar bisa terbang hehee ..eh yg ini tadi udah ya.. Ga perlu jadi Ikan biar bisa Berenang  deh klo gitchuu hehee ok ga tuh !!. .. Ternyata biar ga sedih gw ga sengaja menemukan cara untuk mendefinisikan ulang makna sukses dari tukang cilok yg biasa mangkal di depan indomaret gaezz. Doi emang cuma jualan cilok tapiiii berapa omset dan berapa jumlah gerobak yg doi punya ?? WOW....

Tukang cilok mungkin bukan pengusaha besar secara kasat mata. Tapi karyawan dan pendapatannya lumayan banyak gaeezzz. So, do not be sad ! jadi tukang bubur ayam adalah pintu masuk tuk jadi pengusaha sukses.

SEMANGAT !!!!!....



# Teori di atas ga tau siapa yg bilang ๐Ÿ˜€
# lakukan hal biasa dengan cara luar biasa
# selalu ada ruang senyuman dalam himpitan kesedihan
# serius itu penting tapi humoris itu ngangenin ๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜„
# salambubur๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‹

Jumat, 16 Maret 2018

Mental miskin dan jiwa pengemis

السلام عليكم.....

Mental *Miskin.*

Berjiwa *Pengemis.*

Seorang sahabat yang tinggal di Australia bercerita tentang pengalamannya :
"Suatu sore,
sesudah menikmati secangkir capucino di Gloria Jeans Café yang capucino-nya paling enak,
(menurut saya)
kami mampir ke toko roti.

Membeli sebatang roti kismis dan minta kepada si mbak penjaga toko roti,
untuk dipotongkan,
sehingga nanti di rumah gampang,
tinggal comot dan makan.

Selesai dipotong dan dibungkus rapi,
lalu diserahkan kepada saya.

Langsung saya berikan uang lembaran 10 dollar.

Tapi ditolak dengan senyum manis,
sambil berucap :
”It's free nothing to pay.”

“Are you sure ?”
kata saya.

Gadis remaja yang tugas jualan disana,
*menjelaskan :*
bahwa *kalau sudah ditutup,*
roti *tidak boleh lagi* dijual.

*Boleh diberikan kepada* siapa yang mau *atau* diantarkan ke Second Hand shop *untuk orang yang membutuhkan.*

Agak *tercengang juga* saya dengar penjelasannya.

*Terbayang,*
kalau di Indonesia,
wah bisa bangkrut ini,
karena orang bakalan menunggu toko tutup supaya dapat yang gratis.

Belum selesai ngobrol dengan si mbak,
tiba-tiba ada suami istri,
*yang juga mau belanja* roti.

Rupanya mereka tanpa saya sadari sudah mendengar percakapan kami.

Kelihatan si pria adalah orang Australia,
sedangkan istrinya adalah tipe orang Asia.

Si wanita juga minta roti di mbak,
*tapi di cegah oleh* suaminya,
*sambil berkata :*

*”No darling ~ please.*

We *have enough* money *to buy.*

*Why do we have to* pick up *a free one ?*

*Let’s* another people who need it *more than* us *take it."*

Wah ... wah,
merasa tersindir wajah saya panas …

Egoisme saya melonjak ke permukaan,
merasa tersindir dengan perkataannya.

Dalam hati saya bergumam,
”Hmm saya ini dulu pengusaha tau.”

Tapi,
syukur cepat sadar diri,
gak sampai terucapkan.

Karena orang yang bicara suami ke istrinya,
masa iya saya tiba-tiba nyelak ditengah tengah ?

Hampir saja saya berbuat kesalahan.

Karena toh mereka tidak omongin saya …

*Kalau saya merasa* tersindir,
*itu salah saya* sendiri.

Hingga menjelang tidur,
kata-kata si Suami kepada istrinya masih terngiang-ngiang rasanya.

"We *have enough* money *to buy ...*

*Why do we* have to pick up *a free one."*

*Setelah saya renungkan,*
saya *merasakan* bahwa kata-kata ini *benar.* 👍�

*Kalau* semua orang *yang punyai* duit,
*ikut* antri dan dapatkan roti *gratis,*
yang biasanya diantarkan ke Second Hand Shop *untuk dibagi bagikan gratis,*
*berarti* orang *yang sungguh-sungguh membutuhkan tidak bakalan* kebagian lagi roti *gratis.*

Walaupun saya sesungguhnya mau membayar,
namun si mbak yang nggak mau terima uang saya.

*Pelajaran* hidup ini *tidak mungkin akan saya lupakan.*

*Kalau kita sanggup* beli.
*jangan ambil yang gratis.*

*Biarlah* orang lain *yang lebih membutuhkan* mendapatkannya.

*Sungguh* sebuah kepedulian akan sesama *yang diterapkan dengan* kesungguhan hati. 💯

*Kini* saya *baru tahu,*
*kenapa kalau di* club *ada kopi gratis,*
tapi *jarang ada yang ambil.*

Mereka *lebih suka* membeli.

*Bukan karena* gengsi2an ⁉

Tetapi *terlebih karena rasa peduli* mereka *pada orang lain,*
yang *mungkin lebih membutuhkan.*

Pelajaran yang sungguh sungguh memberikan inspirasi bagi diri saya. 👏

Tuhan *sudah memberikan* berkah yang cukup *untuk kita.*

*Tidak perlu lagi* kita *mengambil bagian* berkah *yang diperuntukkan bagi orang lain.*

Ketika kita mendengar ada program pemerintah untuk membantu orang miskin,
apa yang ada dalam benak kita ?

Apa kita akan ikut bersiasat agar mendapat bagian ⁉

Ataukah kita merekayasa data agar kerabat dan saudara kita dapat bagian juga ?

Atau kita sok jadi pahlawan dengan mengajukan diri sebagai pendamping program,
tapi dalam pikiran kita tersimpan niat busuk untuk memperkaya diri sendiri ⁉

Sahabat,
kemiskinan *bukan untuk dipolitisir dan dieksploitasi.*

Orang miskin dan kemiskinan *adalah ladang amal.*

Keberadaan orang miskin *adalah cara* Tuhan *untuk menguji* sejauh mana kepedulian *dan* keimanan *kita.*

*"Jangan ngaku* beriman *jika* tetangga kanan kirinya *masih ada yang kelaparan."*

Sementara kemiskinan *adalah* mental *yang mesti dirubah* dan *diberantas.*

Mental minta-minta,
mental gratisan,
mental pemalas,
mental potong kompas,
*termasuk* mental jualan data orang miskin.

semua itu *adalah Mental Pengemis yang membuat* bangsa ini *rendah dan terhina.*

*Itulah* kemiskinan *kultural.*

*Sudah saatnya* kita bangkit *dan sadar,*
tangan di atas *lebih baik daripada* tangan di bawah. 👍�

*Menjaga* harga diri lebih baik *daripada menjatuhkan* kehormatan *hanya demi* sesuap nasi.

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah *yang kamu dustakan ?"*

😊🙏🏼

#salambubur

Jumat, 10 Maret 2017

Anak Juara

*Putraku Malaikat Surgaku*

Oleh: Dr. Hj. Netty Prasetiyani Heryawan (Isteri Kang AHER- Gubernur Jawa Barat)

Putraku bukan si juara umum di sekolah, bukan bintang utama di pengajian, juga bukan pemain inti di lapangan futsal, dan tidak juga juara melukis ataupun pemenang lomba beladiri.

Dia adalah anak-anak sepuluh tahun , kelas lima SD, yang senang bermain tiada henti, menikmati keciprak air hujan, mengayuh sepeda menantang angin, dan tak terlalu suka belajar (belajar dalam pengertian umum orang Indonesia, yaitu membaca buku pelajaran sampai hafal titik koma nya).

Ini menyebabkan rumahku tak punya banyak piala.

Terkadang, sebongkah kecewa bergayut di hati, kecewa  pada  nilai  matematikanya yg tak sempurna padahal soalnya  gampang, kecewa  pada hafalan surat pendek al quran yang masih salah, kecewa pada kegagalan gol karena tendangannya yg lemah.

Mana pialamu , duhai kesayanganku?

Allah, Tuhan yang kuimani berbisik lembut.

 “Kamu adalah ibu yang sangaaaaaaaaat jauh dari sempurna, dan putramu tak pernah menuntut lebih, dia ikhlas, tak melayangkan protes atas segala kekuranganmu, lalu kenapa kamu tak membalasnya dengan cara serupa? Kamu sedemikian banyak menuntut dari putramu,” aku terkesiap.

Sekawanan awan sedemikian rendah, gelap,  hujan memberi aba-aba mau turun, aku tergopoh  mencari jilbab, berlari ke jemuran. Dan disana…. putraku sedang  membungkuk memungut jemuran yg berjatuhan, sebelum kusuruh.

Aku tertidur pulas, terbangun mendengar suara berisik di kamar mandi, ternyata putraku sedang memandikan adik bungsunya, berjongkok menyabuni jari-jari kaki adiknya, tanpa kuminta.

Aku heran, kenapa rumah sedemikian damai, tak ada pekikan berebut mainan, ternyata putraku sedang bersimpuh di sudut kamar, membuatkan kapal-kapalan kertas secara adil untuk ketiga adiknya.

Embun dimataku mendesak keluar, ketika hujan turun deras dan  putraku  dilindungi payung lebar, berjalan ke rumah tetangga kemudian kembali dengan membawa daun sirsak untuk peningkat daya tahan tubuhku.

“Empat belas lembar, udah kupilihin yang bagus-bagus, biar mama cepet sembuh” tangannya terulur menyerahkan daun sirsak, , aku terkapar lemah kala itu.

Mataku menghangat, kuterima dengan seksama, seperti pak presiden menerima bendera pusaka.

Terimakasih putraku, engkau telah memberi piala, dan ini adalah sebenar-benarnya piala, piala yang sesungguhnya untukku.

Nak, ijinkan aku mencium tanganmu, sebagai wujud permohonan maaf atas segala tuntutanku...

Putra putri yang shalih- shalihah... juara yg sesungguhnya.

#sebuah refleksi bagi orang tua.