Rabu, 20 Juli 2016

Tentang ANTIBIOTIK

Antibiotik berasal dari bahasa latin yang terdiri dari anti=lawan, bios=hidup. Adalah zat-zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama fungi dan bakteri tanah, yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba. Jadi jelas banget kalau antibiotik berbeda dengan anti virus..    Indikasi yang tepat dan benar dalam penggunaan antibiotika pada anak adalah bila penyebab infeksi tersebut adalah bakteri. Menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention) indikasi pemberian antibiotika adalah
bila batuk dan pilek berkelanjutan selama lebih 10 – 14 hari.yang terjadi sepanjang hari (bukan hanya pada malam hari dan pagi hari).
Indikasi lain bila terdapat gejala infeksi sinusitis akut yang berat seperti  panas > 39 C dengan cairan hidung purulen, nyeri, pembengkakan sekitar mata dan wajah.Bila batuk dan pilek yang berkelanjutan yang terjadi hanya pada malam hari dan pagi hari (bukan sepanjang hari) biasanya berkaitan dengan alergi atau bukan lagi dalam fase infeksi dan tidak perlu antibiotika  Indikasi lain bila terdapat gejala infeksi sinusitis akut yang berat Indikasi lainnya adalah radang tenggorokan karena infeksi kuman streptokokus. Penyakit ini pada umumnya menyerang anak berusia 7 tahun atau lebih. Pada anak usia 4 tahun hanya 15%  yang mengalami radang tenggorokan karena kuman ini.  Bila sakit batuk dan pilek timbul sepanjang hari (bukan hanya malam dan pagi hari) lebih dari 10-14 hari disertai cairan hidung mukopurulen (kuning atau hijau). Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan kultur yang membutuhkan beberapa hari untuk observasi.   Pilihan antibiotik tergantung pada infeksi apa yang dialami seseorang dan bakteri atau parasit apa yang dianggap dokter sebagai penyebab infeksi. Karena tiap antibiotik hanya efektif untuk melawan bakteri atau parasit tertentu. Misalnya ketika Anda terkena radang paru-paru atau pneumonia, hanya profesional medis yang akan tahu jenis bakteri yang biasanya menjadi penyebab kondisi tersebut.

Selain menentukan antibiotik mana yang cocok, dokter juga yang tahu pasti mengenai dosis dan frekuensi yang cocok, sesuai dengan kondisi kesehatan pasien. Oleh karena pemberian antibiotik perlu pertimbangan beberapa faktor, sangat tidak dianjurkan untuk menggunakan antibiotik berdasarkan inisiatif sendiri. Tanpa pengetahuan medis yang lengkap, risiko keliru dalam menggunakan antibiotik sangat tinggi.

Mengonsumsi antibiotik yang salah baik dari segi jenis, dosis dan frekuensi,dapat mengakibatkan bakteri menjadi resisten. Resisten berarti bakteri tersebut beradaptasi dan berubah menjadi kebal terhadap antibiotik yang dulu mampu memusnahkannya. Hal ini sering terjadi akibat penyalahgunaan antibiotik.

Tubuh yang terinfeksi oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik lebih sulit pulih dan diobati. Infeksi itu pun lebih mudah berkembang dan menyebabkan berbagai komplikasi.

Antibiotika adalah obat yang dapat membunuh kuman yang masuk ke tubuh kita. Kuman bisa masuk ke tubuh kita dengan berbagai cara, bisa melalui luka yang terbuka, lewat pernafasan, atau lewat makanan, dll., dan kita dikatakan mengalami infeksi. Gejala-gejala infeksi antara lain adalah demam, sakit, dan tempat yang terinfeksi mengalami bengkak/radang dan warnanya memerah.

Untuk mengobati infeksi, yang terpenting adalah membunuh kuman yang masuk, yaitu dengan antibiotika. Sebenarnya jika kuman telah terbasmi, maka gejala-gejala tadi juga akan menghilang dengan sendirinya. Tapi seringkali gejala-gejala tersebut cukup mengganggu, sehingga dokter kerap meresepkan obat lain yang tujuannya mengurangi gejala, misalnya obat turun panas untuk demamnya dan atau analgetika untuk mengurangi rasa sakit

Jangka waktu penggunaan obat antibiotika biasanya selama 3 – 7 hari, tergantung macam infeksi dan keparahannya. Dokter biasanya akan meresepkan untuk jangka waktu tersebut. Yang perlu diingat dalam penggunaan antibiotika adalah harus digunakan sampai habis, sesuai dengan kuur atau jangka waktu yang diharuskan. Mengapa ? Karena jika tidak habis sesuai dengan aturannya, maka bisa jadi kuman-kuman yang terbunuh baru kuman-kuman yang lemah, sedangkan yang kuat masih hidup. Kuman-kuman yang kuat tetap tinggal dan menjadi resisten terhadap antibiotika, dan tentu saja penyakit bisa jadi kambuh lagi, dan mungkin dibutuhkan antibiotika lain yang lebih kuat (dan seringkali lebih mahal). Jadi, meskipun baru digunakan sehari tapi gejala sudah hilang, antibiotika tetap harus dihabiskan. Sedangkan obat-obat untuk menghilangkan gejala, cukup digunakan jika perlu saja. Jika panas sudah turun, atau rasa sakit sudah hilang, obat-obat penurun panas dan analgetika tidak perlu diminum lagi.

Ada bermacam-macam antibiotika, dari generasi lama sampai generasi terbaru. Beberapa antibiotika generasi lama antara lain adalah golongan sulfa, penisilin (ampisilin, amoksisilin), tetrasiklin, eritromisin, kloramfenikol dan sefalosporin). Sedangkan generasi baru adalah golongan kuinolon seperti siprofloksasin, ofloksasin; golongan sepalosporin generasi ketiga seperti sefuroksim, sefaleksin, dll. Mungkin anda tidak perlu mengingat nama-nama ini, karena antibiotika umumnya diperoleh dengan resep dokter. Tapi sebaiknya Anda mengetahui apakah obat yang Anda minum itu termasuk antibiotika atau tidak. Hal ini bisa ditanyakan pada dokter atau apoteker di apotek.

Selain masalah cara penggunaannya yang harus habis, Anda perlu mengamati apakah Anda termasuk yang alergi terhadap antibiotika atau tidak, terutama jika baru pertama kali menggunakan. Ada beberapa antibiotika yang dapat memicu reaksi alergi pada orang-orang tertentu yang hipersensitif. Yang paling sering adalah golongan sulfa dan penisilin. Reaksi alergi ini bisa berupa gatal-gatal, bengkak, bahkan bisa sampai pingsan. Jika Anda punya riwayat alergi terhadap penisilin atau sulfa, sampaikan ke dokter yang memeriksa Anda sehingga dokter dapat memilihkan antibiotika yang paling tepat untuk Anda.

Semoga bermanfaat...

#salambubur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar