Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Mei 2020

rindu kamu

Jangan larang aku untuk rindu
Dan mengizinkanku hanya untuk kangen
Karena rinduku hanya padamu
Tak ada yg bisa mewakili dirimu

Senyum di fotomu memang terlihat manis
Tapi semut pun tahu itu tak layak dinikmati

Bagiku, 
rindu itu laksana malam menunggu sang rembulan
Seperti matahari menjemput pagi
Yang bila terlambat bertemu bisa terjadi gerhana

Bagiku,
Kangen bisa diwakilkan kehadirannya
Entah lewat syair lagu
Atau sekedar sapu tanganmu yg tertinggal di kantong jaketku dulu

Dan lagu Kangen dari Ahmad Dhani pun
Hanya menuliskan kata rindu dalam bait bait lagumya
Karena lagu itu yang akan mewakili rasa kangen pada Maya, bukan sebagai penawar rindu

Tiada pengobat rindu selain bertemu
Dan rinduku hanya padamu
Entah kapan, aku tak tahu

Yang kulakukan hanya menyimpannya dalam dada
Lalu kupanjatkan dalam doa
Agar semesta membantu kita
Untuk segera berjumpa


#salambubur


Minggu, 26 April 2020

surat dari ayah (sebuah puisi)

Surat dari Ayah


Anakku,
Jangan kau mencariku dalam gelapnya malam
Aku tak punya terang seperti bintang
Kau bisa kubelikan jajan 
tapi tak bisa kujanjikan akan indahnya masa depan
Tak perlu lelahku kau pikirkan
Karena itu sudah menjadi kewajiban

Temui saja aku 
Diantara tetesan keringat para pekerja
Dalam goresan luka para pejuang
Di butiran air mata duka dan kepedihan

Temui saja aku
Di atas panggung para juara
Dalam goresan tinta para cendikia
Di butiran air mata haru dan bahagia

Tempat yang pantas untuk kita bertemu nanti
Ayah yang menyiapkan 
Tapi kamu yang pilihkan
Dan Tuhan yang menentukan

Jadilah anak yang cerdas juga beriman
Banyak teman dan dekat dengan Tuhan
Jalan yang harus kau lalui tak selamanya nyaman
Kesuksesan butuh rintangan dan cobaan

Hingga saatnya nanti
Kau temui aku
Dalam bait bait doa anak yang sholeh

...........

Jogja 24 April 2020

*ditengahpandemicovid-19


Kamis, 19 Maret 2020

CORONA DAN TUHAN

*TUHAN MENGAJAR MELALUI CORONA*

*Vatikan sepi.*
*Yerusalem sunyi.*
*Tembok Ratapan dipagari.*
*Paskah tak pasti.*
*Kabbah ditutup.*
*Shalat Jumat dirumahkan.*
*Umroh batal.*
*Shalat Tarawih Ramadhan mungkin juga bakal sepi.*

*Corona datang*
*Seolah-olah membawa pesan bahwa ritual itu rapuh!*
*Bahwa "hura-hura" atas nama Tuhan itu semu.*
*Bahwa simbol dan upacara itu banyak yang hanya menjadi topeng dan komoditi dagangan saja.*

*Ketika Corona datang,*
 dipaksa mencari Tuhan.*
*Bukan di Basilika Santo Petrus.*
*Bukan di Kabbah.*
*Bukan di dalam gereja.*
*Bukan di masjid.*
*Bukan di mimbar khotbah.*
*Bukan di majels taklim.*
*Bukan dalam misa Minggu.*
*Bukan dalam sholat Jumat.*

*Melainkan,*
*Pada kesendirianmu.*
*Pada mulutmu yang terkunci.*
*Pada hakikat yang senyap.*
*Pada keheningan yang bermakna.*

*Corona mengajarimu,*
*Tuhan itu bukan (melulu) pada keramaian.*
*Tuhan itu bukan (melulu) pada ritual.*
*Tuhan itu ada pada jalan keputus-asaanmu dengan dunia yang berpenyakit.*

*Corona memurnikan agama*
*Bahwa tak ada yang boleh tersisa.*
*Kecuali Tuhan itu sendiri!*
*Tidak ada lagi indoktrinasi yang menjajah nalar.*
*Tidak ada lagi sorak sorai memperdagangkan nama Tuhan.*

*Datangi, temui dan kenali DIA di dalam relung jiwa dan hati nuranimu sendiri.*
*Temukan Dia di saat yang teduh dimana engkau hanya sendiri bersamaNya.*

*Sesungguhnya Kerajaan Tuhan ada dalam dirimu.*
*Qalbun mukmin baitullah.*
*Hati orang yang beriman adalah rumah Tuhan.*

*Biarlah hanya Tuhan yang ada.*
*Biarlah hanya nuranimu yang bicara.*
*Biarlah para pedagang, makelar, politikus dan para penjual agama disadarkan oleh Tuhan melalui kejadian ini.*
*Semoga kita bisa belajar dan mengambil hikmah dari kejadian ini.*

*Rahayu sagung dumadi.......*